Puasa di Berbagai Penjuru Dunia

Standar

Bagi Berumat Muslim,kita hidup di Negara yang mempunyai waktu siang dan malam yang relatif sama, yakni sekitar 12 jam. Coba saja bayangkan, saudara-saudara kita yang jauh disana,di belahan dunia lain, maka puasanya akan lebih dari itu.

1. Denmark
Sebut saja Denmark di Denmark, kita akan mengalami puasa seitar 18 jam. Atau di Alaska yang lebih dari 14 jam. Di Alaska, kadang-kadang mereka harus melakukan shalat tarwih saat sinar matahari masih terang benderang karena jarak antara matahari terbit dan terbenam sangat panjang pada musim panas.

 

 

 

 

 

 

 

2. Mesir
Di Mesir, puasa dimulai dari pukul 4:05 hingga pukul 7:30 malam (tapi dewan fatwa Mesir memutuskan untuk mengurangi putaran jam sebanyak satu jam, hingga jadilah magribnya jam 6:30). Total waktu puasa di Mesir adalah 15 jam.

 

 

 

 

 

 

 

3. Rusia.
Beberapa Muslim Rusia pun banyak yang melayangkan pertanyaan perihal hukum lamanya masa puasa dalam waktu yang sedemikian panjang. Dewan fatwa Rusia sendiri tidak mengeluarkan fatwa resmi terkait hukum tersebut. Syaikh Ildar Aladinov, ketua dewan syariat pada Majlis Mufti Rusia mengatakan, dewan fatwa Rusia tidak mengeluarkan fatwa resmi terkait permasalan ini.

 

 

 

 

 

 

 

4. Gaza
Di Gaza, warga harus berpuasa di tengah suhu panas yang menyelimuti hampir sebagian besar kawasan Timur Tengah. Ini memberi tantangan tersendiri bagi umat Islam yang menjalan puasa, terutama dalam menahan haus dan lapar. Suhu tertinggi mencapai 38 derajat Celsius. Sedihnya, warga di sana harus berpuasa di tengah padamnya listrik. Kondisi ini membuat pendingin udara atau kipas tak bisa dinyalakan untuk mengurangi rasa panas.

5. Yordania
Di Yordania, pemerintah setempat mengurangi jam kerja pegawai negeri dari delapan jam menjadi enam jam. Di Uni Emirat Arab, otoritas ulama mengeluarkan fatwa membolehkan para pekerja atau buruh untuk makan atau berbuka lebih awal jika memang cuaca sudah terlalu panas.

 

 

 

 

 

 

6. Pakistan
Warga Pakistan melaksanakan ibadah puasa di tengah banjir. Bahkan, banjir di negara tersebut sudah menewaskan 1.500 orang. Secara keseluruhan ada 13,8 juta warga Pakistan yang menjadi korban banjir. Hidup mereka sangat bergantung pada bantuan yang didistribusikan pemerintah.

 

 

 

 

 

 

 

7. Afganistan
Sementara warga Afghanistan mengisi hari pertama di Bulan Suci dengan ramai-ramai memenuhi masjid. Namun, banyak juga yang berbelanja di pasar untuk menyiapkan makanan berbuka. Seperti halnya di Indonesia, warga di sana juga mengeluhkan melonjaknya harga barang barang kebutuhan sejak 10 hari jelang Ramadan. Kondisi ini dirasa sulit bagi warga yang tengah hidup di tengah penderitaan konflik dengan kelompok Taliban.

 

 

 

 

 

8. Albania
Albania juga memiliki tradisi memukul bedug. Namun bedanya, kesenian beduk Albania yang dinamakan Lodra ini menggunakan dua tabung. Masing-masing menggunakan kulit kambing dan domba. Pemukulnya menggunakan dua stik yang berbeda saat memukul. Inilah yang membuat beduk Lodra khas menghasilkan dua jenis suara. Dikombinasikan dengan perkusi serta alat tiup lainnya, Lodra nampak mirip dengan iringan musik seperti marchingband. Seniman Lodra terkadang juga diundang khusus untuk mengiring sahur atau biasa disebut dengan Syfyr dan buka puasa atau Iftar.

 

 

 

 

 

9. Palestina.
Setap bulan ramadhan tiba, mereka juga memasang lampu ramadhan di masing-masing rumah dan di sepanjang kota. Sementara di Roma, Italia, kota yang mayoritas warganya bukan muslim juga mempunyai tradisi menyambut ramadhan. Di kota ini jajanan khas Ramadan yang bercita rasa manis serta kurma juga dapat ditemukan dengan mudah.

 

 

 

 

 

 

10. Jepang
Dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, umat Islam di Jepang saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Namun jauh sebelum datangnya Ramadhan, kaum muslimin di Negeri Sakura itu telah mempersiapkan diri. Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa.

Panitia juga menerbitkan almanak Ramadhan dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke masjid-masjid. Almanak ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang. Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara tetangga terdekat.

11. Austria
Terdapat sekitar 400,000 Muslim di Austria atau sekitar 4% dari 8 juta total penduduk negara itu. Agama Islam secara resmi diakui di Austria sejak 1912 dan menjadi agama kedua terbesar setelah Katolik. Sebagaimana tradisi di negeri Islam lainnya, Muslim di Austria menyambut kehadiran bulan Ramadan dengan penuh suka cita. Mereka menjalankan ibadah shalat tarawih di sekitar lima puluh masjid di Wina dan kota-kota Austria lainnya. Umat Islam Austria juga kerap datang ke masjid secara teratur untuk mendengarkan kajian agama tentang hukum Islam, tafsir al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lain. Di Wina juga terdapat sebuah Islamic Center yang didirikan dan dibiayai oleh negara-negara Muslim. Islamic Center ini merupakan pusat informasi dan dakwah Islam. Kuliah-kuliah keagamaan maupun khutbah kerap diberikan oleh kelompok sarjana Muslim terkemuka dari Al-Azhar, Mesir dan tempat-tempat lain. Shalawat tarawih di Islamic Center diadakan secara teratur. Lebih dari itu, Islamic Center ini juga menyediakan hidangan sahur dan buka puasa sepanjang bulan Ramadhan.

Menjelang bulan suci Ramadhan, Muslim di Austria biasanya menggelar kampanye pengumpulan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina. Kampanye ini dikordinir oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di Austria. Kampanye yang diberi nama Feeding Fasting Palestinians ini mendapat sambutan positif dari Muslim Austria. Mereka berlomba-lomba menginfakkan hartanya. Untuk menyebarluaskan kampanye bantuan bagi warga Palestina ini, warga Muslim Austria menggunakan berbagai cara, seperti penyebaran poster, pemasangan iklan dan jasa pos. Semua bantuan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.
Untuk menentukan jatuhnya awal bulan Ramadhan, Muslim Austria sepakat mengikuti Arab Saudi. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, warga Muslim yang berasal dari berbagai etnis, seperti Mesir, Suriah dan Turki tersebut, berbeda-beda dalam menentukan jatuhnya awal bulan Ramadhan, disesuaikan dengan negara asalnya masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

12. Swedia
Masalah utama yang dihadapi kaum Muslimin Swedia dalam menyambut Ramadhan adalah masalah hilal. Umat Islam Swedia berbeda pendapat dalam menentukan jatuhnya awal Ramadhan karena keterbatasan lembaga agama Islam yang menjadi rujukan. Memang terdapat Islamic Center di Swedia, namun tidak dapat menjangkau seluruh umat Islam yang tersebar di berbagai wilayah. Lagi pula, media-media di Swedia tidak memberikan bantuan menyebarluaskan tentang kedatangan bulan Ramadhan. Walau demikian, kaum Muslimin di Swedia kebanyakan mengikuti Arab Saudi dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Ada suatu perbedaan besar antara cara merayakan Ramadhan di negara-negara Skandinavia dan negara-negara Eropa yang lainnya terkait dengan jumlah umat Islam. Walau mereka menjadi minoritas di Swedia, namun Ramadhan membentuk suasana spiritual berbeda yang dinanti-nanti kehadirannya dari tahun ke tahun. Begitu mengetahui munculnya hilal, umat Islam Swedia akan saling memberi selamat satu dengan lainnya. Mereka melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid-masjid terdekat atau tempat-tempat lain yang disewakan sebagai tempat ibadah, jika di sana tidak terdapat masjid.

13. Jerman
Ramadhan di Jerman berlangsung dalam suasana berbeda dibanding di negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Perbedaan juga terdapat pada lamanya waktu siang hari dibanding malam pada musim panas, namun lebih pendek di musim dingin. Terdapat sekitar 3,5 juta Muslim di Jerman, yang tinggal di Berlin atau Ruhr. Keduanya merupakan wilayah dengan komunitas Muslim tinggi di negari Hitler itu. Karena bukan merupakan kawasan mayoritas Muslim, tak heran jika umat Islam Jerman mendapat tantangan yang cukup berat ketika sedang berpuasa. Dimana-mana tampak orang yang makan dan minum di siang hari. Oleh sebab itu, banyak juga umat Islam yang tidak menjalankan ibadah puasa dengan alasan pribadi.

Orang Muslim yang bekerja dengan sistem shift di beberapa perusahaan tertentu akan mensiasati buka puasanya dengan mencari waktu-waktu rehat. Namun, beberapa perusahaan yang memiliki karyawan Muslim dalam jumlah besar membuat kesepakatan terkait dengan ibadah puasa, khususnya untuk waktu buka puasa. Namun, kebanyakan umat Islam menikmati buka puasanya di rumah, ketimbang di tempat kerja karena suasananya yang lebih nyaman.

14. Liberia
Total penduduk Liberia sebanyak 4 juta jiwa, dimana 15 persen-nya adalah Muslim. Selama bulan Ramadhan, umat Islam di Liberia berhenti mendengarkan musik. Bagi mereka, orang yang mendengarkan musik selama Ramadhan dianggap berdosa dan menyimpang dari ruh bulan yang diberkati ini. Ketika hilal telah tampak pertanda masuknya bulan Ramadhan, orang-orang Liberia mulai memainkan alat-alat musik dari kayu selama beberapa jam. Radio-radio lokal juga menyiarkan program-program keagamaan yang bermanfaat bagi umat Islam.

Di Liberia, orang yang biasanya membangunkan kaum Muslimin untuk makan sahur disebut Papali. Papali memulai tugasnya tiga jam sebelum fajar dan berhenti sebentar di tiap rumah, untuk membangunkan penghuninya agar makan sahur. Biasanya dalam melakukan pekerjaannya ini, Papali menyanyikan lagu-lagu relijius lokal (sejenis nasyid) dan kalimah syahadat.

 

 

 

 

 

 

15. Mauritania
Pada awal Ramadhan, Muslim Mauritania terutama yang muda, bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Usai shalat, biasanya kaum muslimin mendengarkan khutbah dan ceramah dari ustadz dan imam-imam. Setelah shalat tarawih, mereka saling berkunjung satu sama lain dan meminum teh hijau, minuman khas di Mauritania.

Sepanjang malam Ramadhan, televisi maupun radio lokal juga menyiarkan langsung shalat tarawih dari Makkah dan Madinah. Di Mauritania, tidaklah mengherankan melihat golongan kaya, terutama yang pelit, menunjukkan simpati kepada golongan miskin selama Ramadan. Solidaritas dan uhkhuwah islamiyah biasanya muncul dan tersebar di seantero negeri selama bulan suci.

 

 

 

 

 

 

16. Bangladesh
Suasana Ramadhan di Bangladesh sangat berbeda. Umat Islam, lebih banyak memanfaatkan waktu bulan puasa untuk memperbanyak membaca buku agama. Sudah menjadi tradisi di Bangladesh, tiap tahun dibuka pameran buku di bulan Ramadhan. Jadilah bulan Ramadhan bagi Muslim di negeri pecahan India itu sebagai bulan membaca buku. Pameran buku berlangsung sejak hari pertama hingga pengujung Ramadhan. Biasanya lokasi pameran di Masjid Bait Al-Mukarram di ibukota Bangladesh, Daka. Sejak mulai diberlakukan tahun 1982, pameran buku ini dilakukan atas kerjasama antar berbagai lembaga Islam di Bangladesh dan juga Menteri Urusan Agama.

Para penerbit buku terbiasa menyediakan serangkaian kitab baru dalam pameran satu bulan berikut harga diskon untuk memancing animo pembeli. Panitia pameran kadang menyediakan sejumlah buku gratis pada jam-jam tertentu di waktu pagi atau sore. Dalam pameran Ramadhan ini, pengunjung yang datang tidak hanya dari umat Islam saja, yang non-Muslim pun ikut memadati ruang pameran.

 

 

 

 

 

 

17. Cina
Dengan kian dekatnya Ramadhan, imam-imam lokal di Cina mulai memberi tahu orang-orang tentang pentingnya mengkaji al-Qur’an dan sunnah, terutama yang berhubungan dengan puasa dan akhlak. Muslim Cina terbiasa shalat tarawih 20 rakaat. Setiap habis dua rakaat mereka biasanya berseru, “Wahai, Zat (Allah) yang mengubah hati dan penglihatan, yang menciptakan siang malam, teguhkan iman kami dalam kebenaran.”

Beragam aktivitas keislaman diselenggarakan di masjid-masjid Cina seperti kajian tafsir al-Qur’an sebelum tarawih dan memburu malam lailatul qadr. Penganan tambahan seperti teh, gula-gula dan kurma disajikan di tiap rumah sebagai pembeda bulan penuh berkah ini dengan hari-hari biasa. Begitu menjelag hari raya Idul Fitri, kaum Muslimin Cina juga diselimuti kebahagiaan dan saling berucap selamat hari raya.

 

 

 

 

 

 

 

18. Turki
Di Turki, waktu magrib baru masuk pada pukul 8:30. Lebih ke utara, waktu puasa akan lebih lama lagi. Di Jerman, waktu puasa mencapai 17 jam, di Rusia mencapai 18 jam, bahkan di negara bagian Mormansik mencapai 20 jam.

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber: http://lubang-kecil.bogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s