Menjadi Seperti Tokek Tuli? Kenapa Tidak?

Standar

Pernah membaca kisah seekor tokek tuli? Untuk yang sudah, selamat mengingat, nah untuk yang belum, saya coba tuk ceritakan garis besarnya. Nih dia….

Di sebuah kerajaan binatang, suatu ketika diadakan lomba panjat pinang hanya untuk para tokek, batang pinang bukan sembarang batang pinang, tapi batang pinang tinggi yang dilumuri oleh oli. Banyak peserta yang mendaftar dikarenakan berbagai hadiah menarik yang ditawarkan, salah satunya berlibur ke Lombok bersama keluarga.

Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua tidak mau kalah. Semua ikut demi hadiah dan demi memperlihatkan kepada Raja binatang keeksist-an mereka.

Menit demi menit berganti jam. Satu persatu reserta gugur dikarenakan beratnya medan. Tersisalah lima ekor tokek yang konsisten, slowly but sure, makin dekat ke hadiah.

Namun sayang, pluk, satu tokek terjatuh ditingkahi ledakan tawa dari penonton. Pluk, tokek yang kedua tidak mampu bertahan walau jarak semakin dekat. Penonton semakin tertawa, beberapa dari mereka mulai berbisik “dah… turun… ga mungkin.”

yang lain menimpali, “jatuh! jatuh! jatuh!”

Satu teriakan bergema dan mematik teriakan dari binatang yang lain. Sayangnya, yang terdengar hanyalah teriakan negatif memuakkan yang meminta mereka turun atau melemahkan kepercayaan mereka.

Pluk, tokek yang ketiga terjatuh diiringi tawa dan teriakan, “tuh kan…. apa kata gue… jatuh kan???”

Tokek keempat dan kelima tetap berusaha walau teriakan menusuk telinga dan hati. Tokek keempat melihat ke bawah, tempat banyak penonton menggunakan corong demi berteriak melemahkan semangat. Dalam hitungan detik, tokek keempat mendarat mulus diantara penonton yang berbahagia melihat moment seperti itu.

Tersisalah seekor tokek tua yang tertatih lambat merayapi batang pinang yang licin tersebut. Di bawah, tidak hanya berteriak, penonton mulai memasang taruhan: dia pasti jatuh!!!

Tak berapa lama, terdengar teriakan kesedihan dari bawah, melihat tokek yang tersisa berhasil sampai ke puncak dan mendapatkan semua hadiah yang ditawarkan. Sang tokek tua tertawa, penonton terperangah dan kesal. Bagaimana bisa?

Usut punya usut, ternyata sang tokek itu tuli. Para tokek muda sebenarnya dengan mudah bisa mencapai puncak pohon pinang tersebut, tapi tidak dengan teriakan meremukkan hati yang didapat.

Kira-kira seperti itu cerita yang saya baca sekian tahun lalu, entah dibuku apa dan dimana.

Setiap hari bisa jadi kita menghadapai discouraging moment seperti itu, dimana kita dengan semangat dan optimis ketika meninggalkan rumah, tapi situasi berubah drastis ketika orang lain memandang kita seperti meremehkan dan mengucapkan satu ‘pertanyaan’ sakti, “emang bisa?”

Kenapa tidak?

Hal yang menarik beberapa kali saya temui ketika mengajar TK.

Suatu ketika, kelas kami mengadakan permainan “Jumping with one leg.” Tiap anak diharapkan melompat memutari lakban hitam yang dipasang melingkar di lantai. Banyak anak yang berhasil melakukan itu, beberapa anak kadang terjatuh. Seorang anak, menolak melakukannya karena yakin tidak bisa melakukan dan mulai menangis. Kami, 2 guru di kelas, mencoba menyemangati, “kamu bisa, coba dulu. Ayo.”

Akhirnya dia berhasil melakukannya walaupun kaki yang lain terjatuh beberapa kali, tapi dia tersenyum sesudahnya. Itu cukup lah…

Satu anak perempuan yang tersisa. Sebelum dia mulai, terdengar celotehan dari satu dua orang anak, “ah, dia sih pasti ga bisa.” Saya tertegun lalu berkata. “Dia bisa kok, Ayo say…”

Dia mencoba dan mencoba. Tiap kali dia melompat, tiap kali juga dia menjatuhkan kakinya yang lain. Semua tertawa, bukan karena meremehkan, saya yakin, karena mereka masih terlalu kecil untuk berpikir hendak menjatuhkan temannya, tapi the show went on. She did it even she dropped her legs many times.

Satu hal yang saya ingat sekali adalah, sebuah ekspresi ketidakpedulian terhadap teriakan or tertawaan dari yang lain. Membuat saya berkontemplasi, “seandainya ini terjadi pada orang yang lebih besar, hasilnya pasti akan berbeda sekali.”

“Seandainya itu terjadi pada saya, bisa jadi saya akan down sekali.”

Tapi Alhamdulillah, moment itu memberikan pelajaran bagus untuk saya, dan semoga untuk pembaca yang lain, tak ada salahnya menjadi seperti tokek tuli.

Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s